Sem 1

1. Makalah Managemen Umum , Silahkan Download MATERI Manajemen Umum FULL

2. Makalah PASO, Silahkan Download MAKALAH PASO Doc. BOJES

3. Laporan Praktikum PPN, Silahkan Download laporan praktikum PPN

Pendidikan Agama Islam

A. Latar Belakang
Tasawuf merupakan salah satu cabang ilmu islam yang lebih menekankan aspek
rohani dari pada jasmani. Tasawuf lebih menekankan akhirat dari pada dunia fana, sedangkan dalam kaitannya dengan pemahaman keagamaan, tasawuf lebih menekankan penafsiran batiniah dari pada lahiriyah.
Pada masa Nabi Muhammad saw istilah tasawuf memang belum ada, namun esensi perilaku tasawuf lebih banyak dilakukan, baik oleh Nabi maupun oleh para sahabat.
Demikian pula perilaku kehidupan keseharian Nabi Muhammad saw dan para sahabat yang sangat sederhana, qanaah dan sabar merupakan contoh perilaku tasawuf.
Itulah yang menyebabkan orang-orang berfikir bahwa tasawuf itu berdampak negatif bagi masyarakat. Ada yang berpendapat bahwa tasawuf muncul sebagai gerakan kritik perlawanan terhadap penguasa yang bergaya  hidup bermewah-mewahan.

A. Perilaku Tasawuf Pada Diri Nabi Muhammad SAW
Perikehidupan Nabi Muhammad saw merupakan benih-benih tasawuf yaitu pribadi Nabi Muhammad saw yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona oleh kemewahan dunia. Pada suatu waktu Nabi saw datang kerumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar As-shiddiq. Ternyata rumahnya tidak ada makanan. Keadaan seperti itu beliau terima dengan sabar, lalu Ia menahan laparnya dengan berpuasa.
Perilaku tasawuf Nabi saw juga dapat dilihat dari ibadah beliau yang senantiasa sholat sampai larut malam. Aisyah istri beliau pernah bertanya :”wahai junjungan, bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang telah diampuni Allah swt, kenapa engkau masih terlalu banyak melakukan sholat?” Nabi saw menjawab :”Aku ingin menjadi hamba yang benyak bersyukur”.(H.R. Bukhari dan Muslim)
Dalam diri Nabi Muhammad saw terdapat sifat-sifat utama yaitu : Rendah hati, Lemah lembut, Jujur, Tidak suka mencari cacat orang lain, Sabar, Tidak angkuh, Santun dan tidak mabuk pujian, Serta tidak pernah putus asa, Sehingga Allah swt memujinya dalam Al-qur’an Surat Al-qalam ayat 4.

“Dan sesungguhnya Kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”
Demikian pula dengan surat Al-Ahzab ayat 21

“Sesungguhnya telah ada pada (Diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah swt dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

B. Perilaku Tasawuf Pada Para Sahabat Nabi saw.
Kehidupan para sahabat Nabi saw dijadikan acuan oleh para sufi, dikarenakan para sahabat sebagai murid langsung Rasulullah saw.
a. Abu bakar as-siddiq
Pada awalnya ia adalah saudagar quraisy yang kaya raya. Setelah masuk islam, ia menjadi orang yang sangat sederhana. Ia menyumbangkan seluruh hartanya untuk perjuangan islam ketika menghadapi perang tabuk. Diriwayatkan bahwa selama enam hari dalam seminggu Abu bakar selalu dalam keadaan lapar. Abu bakar menghiasi dirinya dengan sifat-sifat rendah hati, santun, sabar, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah swt dengan ibadah dan dzikir.
b. Umar bin Khattab
Umar bin Khatab terkenal dengan keheningan jiwa dan kebersihan kabulnya sehingga Rosulullah saw berkata:”Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar”.
Diriwayatkan bahwa suatu ketika setelah menjabat menjadi khalifah, ia berpidato dengan memakai baju yang bertambal dua belas sobekan. Umar bin Khattab juga banyak meluangkan waktu malamnya untuk sholat dan dzikir, karena waktu siangnya banyak digunakan untuk mengurus kepentingan umat.
c. Utsman bin Affan
Beliau adalah seorang yang zuhud, tawaduk, banyak mengingat Allah swt. Banyak membaca Al-qur’an dan memiliki akhlak terpuji. Ketika perang tabuk, ia pernah membeli sebuah telaga milik kaum yahudi untuk kepentingan umat muslim. Dan ketika terjadi paceklik ia juga menyumbangkan seribu ekor unta.
d. Ali bin Abi thalib
Kezuhudan kerendahan hati Ali terlihat pada kehidupan yang sangat sederhana. Ia tidak malu memakai pakaian bertambal dan ia sendiri yang menambalnya.
Ali memiliki keistimewaan tersendiri yakni pengertian-pengertiannya yang agung. Isyaratnya yang halus, dan ungkapan tentang tauhid, makfiat, iman, ilmu-ilmu luhur, dan sebagainya.
Selain keempat sahabat Rasulullah, ada juga sahabat lain, seperti Abu Dzar al Ghifari, Salman al-Farisi, Mu’az bin jabal, Abu ubaidah bin  jarrah, dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tasawuf pada massa Rasulullah saw belum ada tetapi Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya seperti Abu Bakar as-shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib sudah melakukan perilaku tasawuf. Namun masyarakat pada massa Nabi Muhammad saw belum percaya dengan adanya tasawuf, karena masyarakat tersebut belum mengetahuinya.
Oleh karena itu, pada saat Nabi Muhammad saw wafat, banyak sastrawan dan politikus yang menulis sejarah hidup Nabi Muhammad saw bahwa hidup sederhana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bukanlah suatu kewajiban agama, tetapi dengan cara itulah beliau memberikan teladan tentang ketangguhan mental yang tidak lemah, sehingga mampu menghadapi tantangan dan permasalahan yang dihadapi.
Begitu juga dengan kehidupan para sahabat Nabi Muhammad saw. Perbuatan dan ucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi saw. Tekun beribadah dan sederhana dalam hidupnya, justru cenderung kekurangan sebab semua harta yang dimiliki diserahkan untuk perjuangan islam.

B. Saran
Mengingat perilaku Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, kami menyarankan :
1. Agar masyarakat tahu tentang perilaku tasawuf Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya.
2. Agar masyarakat bisa mencontoh sifat Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya.
3. Agar masyarakat mengerti sejarah Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya.

.PENGERTIAN MUAMALAH
Pengertian muamalah dapat dilihat dari beberapa segi, pertama dari segi bahasa dan kedua dari segi istilah. Dari segi bahasa, muamalah berasal dari kata : معاملة -يعامل – عامل sama dengan wazan : مفاعلة – يفاعل – فاعل yang artinya saling bertindak, saling berbuat, dan saling mengamalkan. 1 Sementara itu, menurut istilah, pengertian muamalah dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu pengertian muamalah dalam arti luas dan pengertian muamalah dalam arti sempit.
Menurut beberapa ahli, definisi muamalah dalam arti luas adalah sebagai berikut :
1.Al-Dimyati berpendapat bahwa muamalah adalah :
ا لتحصيل ا لدنيوي ليكو ن سببا للا خر
“Menghasilkan duniawi, supaya menjadi sebab suksesnya masalah ukhrawi”.2

2.Muhammad Yusuf Musa berpendapat bahwa muamalah adalah peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan ditaati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia.3 Dalam buku yang sama dikatakan pula bahwa muamalah adalah segala peraturan yang diciptakan Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam hidup dan kehidupan.

Dari beberapa pengertian yang telah disebutkan mengenai muamalah dalam arti luas, dapatlah diketahui bahwa muamalah adalah aturan-aturan Allah untuk mengatur manusia dalam kaitannya dengan urusan duniawi dalam pergaulan sosial.4
Sedangkan pengertian muamalah dalam arti sempit, didefinisikan oleh para ulama sebagai berikut :

1.Menurut Hudhari Byk. pengertian muamalah adalah :
ا لمعاملات جميع العقودالتي بها يتبا دل منا فعهم
“Muamalah adalah semua akad yang membolehkan manusia saling menukar manfaatnya”

2.Menurut Idris Ahmad, muamalah adalah aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam usahanya untuk mendapatkan alat-alat keperluan jasmaninya dengan cara yang paling baik.

3.Menurut Rasyid Ridho, muamalah adalah tukar menukar barang atau sesuatu yang bermanfaat dengan cara-cara yang telah ditentukan.

Dari beberapa pandangan di atas mengenai pengertian muamalah dalam arti sempit, dapatlah dipahami bahwa yang dimaksud dengan fiqh muamalah dalam arti sempit adalah aturan-aturan Allah yang wajib ditaati yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam kaitannya dengan cara memperoleh dan mengembangkan harta benda.5
Dari dua sudut pandang yang berbeda dalam memahami pengertian muamalah, baik secara luas maupun secara sempit, terdapat persamaannya yaitu sama-sama mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam kaitan dengan pemutaran harta.

III.RUANG LINGKUP FIQH MUAMALAH
Untuk memudahkan memahami ruang lingkup fiqh muamalah secara spesifik, maka terlebih dahulu akan dibahas mengenai dua jenis muamalah :
A.Al-Muamalah al-Madiyah
Yaitu muamalah yang mengkaji objeknya sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa muamalah al-madiyah adalah muamalah bersifat kebendaan karena objek fiqh muamalah adalah benda yang halal, haram, dan syubhat untuk diperjualbelikan, benda-benda yang memadharatkan, benda-benda yang mendatangkan kemaslahatan bagi manusia, dan beberapa segi lainnya.

B.Al-Muamalah al-Adabiyah
Yaitu muamalah yang ditinjau dari segi cara tukar-menukar benda yang bersumber dari panca indera manusia, yang unsur penegaknya adalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban, seperti jujur, hasud, dengki, dendam, dan lain sebagainya.

Dari dua jenis muamalah yang telah disebutkan di atas, maka ruang lingkup fiqh muamalah juga terbagi menjadi dua, yaitu ruang lingkup fiqh muamalah yang bersifat Adabiyah dan ruang lingkup fiqh muamalah yang bersifat Madiyah.
1.Ruang lingkup fiqh muamalah yang bersifat Adabiyah mencakup beberapa hal berikut ini :
a.Ijab dan kabul
b.Saling meridhai
c.Tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak
d.Hak dan kewajiban
e.Kejujuran pedagang
f.Penipuan
g.Pemalsuan
h.Penimbunan
i.Dan segala sesuatu yang bersumber dari indera manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta dalam hidup bermasyarakat.
2.Sedangkan beberapa hal yang termasuk ke dalam ruang lingkup muamalah yang bersifat Madiyah adalah sebagai berikut :
a.Jual-beli ( al-Bai’ al-Tijarah )
b.Gadai ( al-Rahn )
c.Jaminan dan tanggungan ( Kafalan dan Dhaman )
d.Pemindahan hutang ( Hiwalah )
e.Jatuh bangkrut ( Taflis )
f.Batasan bertindak ( al-Hajru )
g.Perseroan atau perkongsian ( al-Syirkah )
h.Dan lainnya beserta masalah-masalah Mu’ashirah ( Mahaditsah ), seperti bunga bank, asuransi, kredit, dan masalah-masalah baru lainnya.

Dari penjelasan di atas mengenai fiqh muamalah, baik dari segi pengertian secara luas maupun secara sempit serta ruang lingkup fiqh muamalah, dapatlah diketahui bahwa itu semua merupakan tata cara yang Allah tetapkan kepada manusia untuk melakukan aktifitas duniawinya dengan sesama manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmaninya.
Salah satu manifestasi aktifitas manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya adalah adanya mekanisme perbankan yang dapat memberi kemudahan bagi manusia untuk melaksanakan aktifitasnya. Namun, adanya riba serta kentalnya aroma kapitalis dalam praktik perbankan di Indonesia justru membuat sulit umat manusia untuk mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan aspek perekonomian yang seharusnya mampu untuk diatasi melalui perbankan. Selain itu, mekanisme perbankan yang seperti ini bersifat kontras dengan tujuan utama adanya perbankan untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang adil dan transparan.
Maka dari itu, sudah saatnya sekarang praktik perbankan di Indonesia dilandasi oleh nilai-nilai Islam yang dapat mewujudkan kegiatan ekonomi yang adil dan transparan.6 Dalam perbankan yang berbasis Syariah atau yang lebih dikenal dengan sebutan perbankan syariah, terdapat banyak hal ( mekanisme ) yang pada hakekatnya dipelajari dalam fiqh muamalah. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :
1.Perbankan syariah tidak mengenal sistem riba, karena riba dilarang oleh agama serta riba hanya akan menimbulkan kemudharatan saja. Terdapat beberapa ayat Al-Quran yang mengharamkan riba, di antaranya yaitu :

QS. Al-Baqarah [ 2 ] : 275

Artinya : “.… Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. …..” ( QS. Al-Baqarah [ 2 ] : 275 )

QS. Ali-Imran [ 3 ] : 130
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”( QS. Ali-Imran [ 3 ] : 130 )

QS. An-Nisa’ : 161
Artinya : “Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”( QS. An-Nisa’ [ 4 ] : 161 )

Sementara itu, dalam kajian teoritis fiqh muamalah, riba atau bunga yang dibayar sebagai peminjaman modal merupakan penyebab utama krisis ekonomi,7 sehingga riba merupakan hal yang tidak boleh untuk dilakukan.

2.Kemudian, dalam perbankan syariah terdapat sistem mudharabah atau qiradh atau yang dikenal dengan istilah sistem bagi hasil. Dasar hukumnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Shuhaib r.a., bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda :

ثلا ث فيهن البركة البيع الي اجل والمقا رضة وخلط البربا لشعير للبيت ولا للبيع
Artinya : “Ada tiga perkara yang diberkati : jual beli yang ditangguhkan, memberi modal, dan mencampur gandum dengan jelai untuk keluarga, bukan untuk dijual.”
Menurut Imam Taqiyudin, mudharabah ialah :

عقد علي نقد ليتصر ف فيه ا لعامل با لتجا رة
“Akad keuangan untuk dikelola dikerjakan dengan perdagangan.”8
Sedangkan menurut Sayyid Sabiq, mudharabah adalah akad antara dua belah pihak untuk salah satu pihak mengeluarkan sejumlah uang untuk diperdagangkan dengan syarat keuntungan dibagi dua sesuai dengan perjanjian.9
Dengan mudharabah ini bank Islam dapat memberikan tambahan modal kepada pengusaha untuk perusahaannya dengan perjanjian bagi hasil, baik untung ataupun rugi sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.10

3.Dalam perbankan syariah juga terdapat sistem pinjaman ( ‘Ariyah ). Sesuai dengan pengertian bank Islam itu sendiri, bahwa bank Islam merupakan suatu lembaga keuangan yang fungsi utamanya menghimpun dana untuk disalurkan kepada individu atau lembaga yang membutuhkannya dengan sistem tanpa bunga.11 Pengertian tersebut menunjukkan bahwa perbankan syariah berupaya untuk menghindari adanya bunga bank dalam membantu masyarakat melalui program pinjaman dana. Dasar hukum mengenai sistem pinjaman seperti ini terdapat dalam QS. Al-Maidah [ 5 ] : 2 yang artinya adalah
“……..dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. ……” ( QS. Al-Maidah [ 5 ] : 2 )
serta dalam QS. An-Nisa’ : 58 yang artinya adalah
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…….” ( QS. An-Nisa’ [ 4 ] : 58 )
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa melebihkan bayaran dari sejumlah pinjaman diperbolehkan, asalkan kelebihan itu merupakan kemauan dari yang berutang semata. Menurut hadits tersebut, hal ini menjadi nilai kebaikan bagi yang membayar utang. Sabda Rasulullah SAW tersebut adalah sebagai berikut :

فا ن من خير كم ا حسنكم قضا ء ( ر و ا ه ا لبخا ر ي و مسلم )
“Sesungguhnya di antara orang yang terbaik dari kamu adalah orang yang sebaik-baiknya dalam membayar hutang” ( HR. Bukhari dan Muslim )
Sebaliknya, jika penambahan tersebut telah menjadi perjanjian dalam akad perutangan, maka tambahan itu tidak lagi halal bagi yang berpiutang untuk mengambilnya. Rasulullah SAW bersabda :

كل قرض جرمنفعة فهو و جه من وجوه ا لر با ( ا خر جه ا لبيهقي )
“Tiap-tiap piutang yang mengambil manfaat, maka itu adalah salah satu cara dari sekian cara riba” ( Dikeluarkan oleh Baihaqi )

4.Sama seperti halnya yang terdapat dalam perbankan konvensional, dalam perbankan syariah pun terdapat sistem kredit. Maksud kredit adalah sesuatu yang dibayar secara berangsur-angsur, baik itu jual beli maupun dalam pinjam-meminjam. Namun, mekanisme kredit yang terdapat dalam perbankan syariah berbeda dengan mekanisme kredit yang terdapat dalam perbankan konvensional yang cenderung terarah pada sistem riba atau bunga. Menurut Anwar Iqbal Qureshi hal ini dikarenakan fakta-fakta obyektif menegaskan bahwa Islam melarang setiap pembungaan uang. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa Islam melarang perkreditan sebab sistem perekonomian tidak akan lancar tanpa adanya kredit dan pinjaman.

Kesimpulan
Fiqh muamalah memiliki korelasi yang erat sekali dengan mekanisme perbankan Islam atau yang biasa disebut dengan perbankan syariah. Selain itu, fiqh muamalah pun dapat dijadikan sebagai salah satu jalan keluar untuk mengatasi polemik yang berpotensi menghambat perkembangan ekonomi berbasis Islam dalam penerapan perbankan syariah.
Perbankan syariah merupakan lapangan untuk mengaplikasikan konsep-konsep penting ekonomi Islam yang dibahas secara teoritis dalam fiqh muamalah, seperti masalah riba, mudharabah, kredit, dan masalah pinjaman
Diposkan oleh pramana gonzalez / 10/20/2009 /
Label: FIQIH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s